news studentsite
- Back to Home »
- Perasaanmu Saja
Posted by : Unknown
Minggu, 15 Juni 2014
Itu Hanya Perasaanmu Saja
Mencintai
bukanlah sebuah dosa, itu yang saya pahami. Cinta sangatlah universal, tidak
semata bagaimana kita mencintai terhadap apa yang ingin kita miliki. Tapi bukan
berarti ketika kita bersikap baik terhadap seseorang lantas dia boleh seenaknya
dengan mudah mengasumsikan bahwa ia teristimewa, sehingga membuatnya tinggi
hati. Saya menangkap dari beberapa yang saya alami, meski hal tersebut tidaklah
dikatakan, tapi yang jelas sikap dan tindakan mereka keliru. Dizaman sekarang
yang membingungkan antara apakah kiamat sudah dekat ataukah kiamat itu sedang
terjadi, mustahil kita bisa menutup mata dengan kebebasan sekaligus pencerahan
yang menebar ke segala penjuru bumi. Sampai-sampai alam fikiran juga tidak luput
dari pengaruh zaman.
Dalam suatu kondisi dan waktu saat perasaan
yang biasa dan memang standar tidak ada maksud hati lebih untuk menyukai atau
sampai ingin memiliki seseorang, karena mereka hanya seperti teman, adik,
saudara dan hanya sebatas itu. Saya sudah terbiasa bersikap yang barangkali
terlalu ramah dan formal terhadap seorang wanita.
SEPERTI KISAH SAYA INI
Dalam sebuah facebook ada seorang teman
SMA, seorang wanita yang nge”add” facebook saya. Kebetulan saya benar-benar
lupa terhadap orang ini, ya maklum saya sekolah SMA di kalimantan hanya enam
bulan alias satu semester saja, dan baru setelah bertahun-tahun ia tiba-tiba
nge”add facebook” saya. Ya ia adalah kawan SMA di kalimantan dulu. Kebetulan
dalam satu kelas dulu kita sama-sama orang jogja dan kita tidak terlalu dekat
sebatas teman kelas tidak lebih. Ketika saya meminta untuk dibantu mengingat
dengan benar tentang siapa dia, akhirnya berhasil saya diingatkan olehnya. Saya
tentu saja sangat apresiatif, dan dengan basa-basi saya menawarkan ia untuk
kapan-kapan ke jogja, main-main kerumah. Secara tidak terduga tanggapannya saya
pikir hiperbola, ia malah mengutarakan kurang lebihnya seperti ini “maaf kamu
terlambat saya sudah punya keluarga, anak, dan suami”. Dalam hati saya “terus apa
kaitannya?”. Ternyata ia menanggapi terlalu memakai fikrannya sendiri. Saya
hanya ingin tertawa “unik”. Ternyata mereka membuat imajinasi mereka sendiri.
Mungkin dengan begitu ia merasa teristimewa, tapi ya selama ia bahagia bukan
masalah. Mungkin itulah fikiran sebagian wanita yang tidak saya mengerti.
Kemudian dalam sebuah kebetulan ketika saya
opname di rumah sakit tiba-tiba saya mendapat kejutan, kawan-kawan MTS yang
sudah sangat lama sekali, datang menjenguk saya. Tentu saja saya merasa senang.
Kemudian saya harus berfikir dalam lagi untuk mengingat nostalgia lama yang
tersimpan di bawah fikiran. Biasalah kalau reuni pastilah yang dibicarakan
kebiasaan-kebiasaan dulu sekolah, guru-guru dan semacamnya. Tapi sayangnya dulu
waktu MTS saya tidaklah begitu populer saya hanya siswa kuper yang sedikit
teman dan otomatis sedikit cerita, jadi banyak yang “miss” disaat mereka
membicarakan masalah nostalgia MTS ini.
Saya memiliki kekurangan salah satunya
terlambat dalam menemukan ingatan, namun sekali ingat langsung sampai ke
detil-detilnya bisa saya ceritakan, itulah kekurangan saya. Begitu saya ingat,
saat itu pula saya begitu antusias terhadap salah seorang diantara empat teman
yang menjenguk saya di rumah sakit tersebut, kebetulan ia satu-satunya
perempuan. Saya menceritakan kalau kita dulu pernah dekat sebagai teman, sampai
segala pembicaraan anak puber waktu itu kita ceritakan blak-blakan. Saya
hubungi ia lewat SMS segala rahasia yang ternyata ia sudah melupakannya,
sedangkan saya sangat mengingatnya. Lagi-lagi saya dengan jelas tidak menyimpan
perasaan apapun. Seperti biasa mungkin ia berfikir saya ada perasaan
terhadapnya, mungkin merupakan alasan yang tepat ia mengira demikian, sebab
memang saya “jomblo” bahasa zaman sekarangnya. Tidak berapa lama saya di undang
dalam acara ulang tahunnya, saya pun merasa senang. Sesampai disana saya
langsung disambut dengan baik, kita saling menyapa diantara semua undangan yang
datang. Dan saya pun diajaknya berfoto berdua, saya pun dengan senang hati,
karena ia memang seperti sahabat dikala MTS ia bisa dekat terhadap siapa saja,
bahkan orang kuper seperti saya bisa ia ajak menjadi kawannya.
Dan setelah itu saya diperkenalkan
dengan calon suaminya, ya ia tidak memberi tahu secara eksplisit, tapi dari
bahasa tubuh, bahasa alamnya saya sudah tau bahwa ini calon suaminya. Dan
terakhir merekapun menikah, saya diundang. Intinya hampir mirip cerita diatas,
hanya saja yang ini lebih elegan.
Dan masih banyak lagi cerita yang serupa
dengan cerita yang saya sampaikan. Namun dari pengalaman cerita ini saya dapat
memetik beberapa makna diantaranya
1. Setiap orang memiliki jalan fikirannya
sendiri yang terkadang jalan fikiran tersebut adalah
sebuah nasehat untuk kita supaya kita
bersikap lebih wajar.
2. Wanita itu unik, dan mereka suka
terhadap sesuatu yang terkadang itu khayal, meski tidak semua.
3. Setiap sikap yang ditunjukkan terhadap
kita sebenarnya itu ada peringatan di dalamnya untuk kita, terlepas ia bersikap
benar ataukah tidak benar dalam menilai kita.
4. Jujur dari semua wanita yang saya kenal
masih belum ada yang pas, meski banyak sekali yang menarik hati.
Dan buat saya jodoh itu pastilah yang
mengerti kita apa adanya, bukan adanya apa
Dan akhirnya terimakasih teman, sahabat
wanita-wanita, kalian sungguh teristimewa dan menginspirasi saya untuk tetap
semangat dan tersenyum sekaligus tertawa dengan segala fikiran-fikiran kalian.
(tidak bermaksud membawa-bawa gender) PEACE (^_^)