news studentsite
Archive for Juni 2014
Pengalaman Pribadi
PENGALAMAN PRIBADI
Bicara tentang pengalaman pribadi saya, sepertinya sangat banyak sekali cerita dan pengalaman hidup yang saya dapatkan dan saya lewati. Namun kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya saat masih duduk di bangku SMA. Pengalaman ini tentang sebuah pelajaran yang sebenarnya telah saya dapatkan sejak SD, yaitu pelajaran OLAHRAGA. Sebenarnya saya sangat menyukai pelajaran ini, namun ada satu materi dimana saya tidak bisa melakukan prakteknya dan dapat dikatakan saya sangat membenci materi ini dan akan saya hindarkan terus sebisa saya. Materi tersebut adalah senam matras, dimana pada materi ini terdapat praktek untuk melakukan gerakan roll depan, roll belakang dan lompat harimau.
Saya sangat membenci materi ini karena sudah pasti saya tidak dapat melakukan praktek tersebut walaupun saya telah mencoba di rumah, tetapi tetap saja tidak bisa. Karena saat masih sekolah tubuh saya gemuk, dan saya menjadi orang terbesar ke dua di sekolahan. Jika ada materi ini saya dan teman saya yang di sebut sebagai orang terbesar pertama sudah pasti tidak bisa melakukan prakteknya dan hanya akan menjadi papan rintang saat yang lain loncat harimau dengan alasan agar tetap mendapat nilai.
Pengalaman ini sebenarnya sebuah cerita yang memalukan bagi saya, namun jika di ingat ingan kembali, saya akan tertawa juga mengingatnya. Ya, waktu itu ada ujian praktek di sekolah saya untuk nilai uas, dan materi senam matras ini menjadi salah satu nilai praktek dalam mata pelajaran olahraga. Saat itu saya awalnya sudah bilang kalau tidak akan ikut saat mengambil nilai praktek ini, namun guru saya tetap bilang coba saja dulu. Akhirnya saya tetap menunggu giliran nama saya di panggil, dan ketika sudah dekat saya izin ke kamar mandi. Tetapi guru saya sudah mengetahui niat saya ini, dan ketika nama saya di panggil dia tetap mencari cari saya sambil tersenyum dan menyuruh teman saya untuk memanggil saya. Akhirnya datang teman saya beramai ramai menyusul saya dan memberi tahu kalau saya di panggil untu praktek. Namun saya tetap tidak mau mengikuti dan memilih untuk bertahan di kamar mandi.
Akhirnya setelah selesai mengambil nilai praktek ini, saya baru keluar dari kamar mandi dan menemui guru saya untuk meminta nilai dengan materi apa saja asal jangan senam matras. Akhirnya guru saya tersenyun dan bilang “sudah kamu tidak usah buat apa-apa, saya maklumi kok“. Saya pun merasa tenang dan lega mendengarnya. Namun ketika ke dalam kelas, beberapa teman dekat saya menertawai saya dan meledek saya dengan bilang “ah cemen ah”. Saat itu saya hanya bisa membalas tawanya saja, tetapi sebenarnya ada perasaan malu juga di dalam hati saya.
Saya sangat membenci materi ini karena sudah pasti saya tidak dapat melakukan praktek tersebut walaupun saya telah mencoba di rumah, tetapi tetap saja tidak bisa. Karena saat masih sekolah tubuh saya gemuk, dan saya menjadi orang terbesar ke dua di sekolahan. Jika ada materi ini saya dan teman saya yang di sebut sebagai orang terbesar pertama sudah pasti tidak bisa melakukan prakteknya dan hanya akan menjadi papan rintang saat yang lain loncat harimau dengan alasan agar tetap mendapat nilai.
Pengalaman ini sebenarnya sebuah cerita yang memalukan bagi saya, namun jika di ingat ingan kembali, saya akan tertawa juga mengingatnya. Ya, waktu itu ada ujian praktek di sekolah saya untuk nilai uas, dan materi senam matras ini menjadi salah satu nilai praktek dalam mata pelajaran olahraga. Saat itu saya awalnya sudah bilang kalau tidak akan ikut saat mengambil nilai praktek ini, namun guru saya tetap bilang coba saja dulu. Akhirnya saya tetap menunggu giliran nama saya di panggil, dan ketika sudah dekat saya izin ke kamar mandi. Tetapi guru saya sudah mengetahui niat saya ini, dan ketika nama saya di panggil dia tetap mencari cari saya sambil tersenyum dan menyuruh teman saya untuk memanggil saya. Akhirnya datang teman saya beramai ramai menyusul saya dan memberi tahu kalau saya di panggil untu praktek. Namun saya tetap tidak mau mengikuti dan memilih untuk bertahan di kamar mandi.
Akhirnya setelah selesai mengambil nilai praktek ini, saya baru keluar dari kamar mandi dan menemui guru saya untuk meminta nilai dengan materi apa saja asal jangan senam matras. Akhirnya guru saya tersenyun dan bilang “sudah kamu tidak usah buat apa-apa, saya maklumi kok“. Saya pun merasa tenang dan lega mendengarnya. Namun ketika ke dalam kelas, beberapa teman dekat saya menertawai saya dan meledek saya dengan bilang “ah cemen ah”. Saat itu saya hanya bisa membalas tawanya saja, tetapi sebenarnya ada perasaan malu juga di dalam hati saya.
Aku Anak Perantau
AKU ANAK PERANTAU

Ehem.... judulnya kayak gimanaaa gitu ya? Hihi
Merantau, adalah sebuah keinginan yang sudah lama sekali tersimpan di angan. Mungkin sejak kuliah sih, sejak memiliki banyak sekali teman-teman sekampus yang berasal dari luar daerah. Yang harus hidup ngekost dengan segala 'cerita anak kost'nya. Anehnya, cerita suka duka anak kost ini justru semakin menguatkan keinginanku untuk suatu hari nanti bisa merasakan sendiri, gimanaaa sih sebenarnya rasanya jadi anak kost itu.
Untuk bisa ngekost, ga mungkin donk aku pamit pada orang tua dan menyewa kamar kost. Wong jarak antara rumah dan kampusku itu dekat banget. Cuma butuh 5 menit perjalanan doank gitu lho. Masak mau ngekost. Haha. Jadinya, terpaksa deh memendam angan-angan ini, hingga waktu tak terhingga. Entah sampai kapan bisa mewujudkannya.
Hingga kemudian, di tahun 1995, setamat kuliah, akhirnya kesempatan ini sampai juga, tapi judulnya ga sama persis. Bukan menjadi anak kost, tapi menjadi orang perantauan. Menikah dan bekerja di Medan, membuka jalan bagiku untuk dapat merasakan suka duka hidup merantau. Tinggal jauh dari orang tua. [Memang sih, Medan - Banda Aceh itu ga jauh-jauh amat sih, tapi butuh waktu 9 - 10 jam perjalanan juga by darat lho]. Jadilah aku memulai bagian kehidupan dengan judul merantau.
Merantau di kota Medan, membuatku betah. Kayaknya lebih banyak sukanya deh daripada dukanya. Mungkin karena dalam perantauan ini, aku ditemani oleh suami dan anakku ya sobs? Jadi kesannya ya indah aja, walau terkadang himpitan masalah finansial, tak munafik harus diakui sebagai salah satu warna yang sering menggelapkan cerahnya kehidupan.
Sembilan tahun hidup di perantauan pertama [Medan], membuat hidup ku berwarna warni dengan rasa yang nano-nano. Merah, hijau, kuning, biru bahkan kelabu, datang silih berganti, malah terkadang juga secara bersamaan. Asam, asin, manis, pedas dan pahit juga suka datang silih berganti atau malah sering juga berkolaborasi. Semuanya aku jalani dengan satu usaha, yaitu berusaha menikmatinya dengan sikap yang bijak. Yah, namanya merantau, tentu tak senikmat kala kita berada di kampung halaman, bener ga sobs?
Penghujung tahun 2004, adalah suatu masa yang memberikan perubahan maha besar dalam kehidupanku. Tsunami melanda dan membuat Aceh porak-poranda [26 Desember 2005], dan memanggil jiwaku untuk kembali ke tanah kelahiran. Ayah ibu dan adik bungsuku, membuatku tak mampu menunda hingga esok harinya untuk segera berangkat pulang kampung. Mencari dan memastikan mereka bertiga selamat dari hantaman gelombang petaka itu. Dan mulailah aku menjejakkan kakiku kembali dari tanah perantauan, ke kampung halaman, yang telah aku tinggalkan selama sembilan tahun, tanpa sekalipun aku berkesempatan untuk menjenguknya.
Kehidupan di tanah bencana, dimana rumah kami tak lagi dapat ditempati, membuat kami seperti hidup dalam 'perantauan' juga. Kami tinggal di pengungsian untuk beberapa lama. Dan aku sendiri mulai bergabung dengan sebuah organisasi international bidang kesehatan [International Medical NGO] untuk membantu saudara-saudaraku yang tertimpa bencana.
Agak aneh memang, kita memang berada di tanah kelahiran, tapi rasanya sungguh seperti merantau, karena segalanya telah berubah drastis. Rumah, lingkungan dan alam sekitar telah berubah. Membuat kami benar-benar merasa seperti tak lagi berada di kampung halaman sendiri. Terkadang aku suka berfikir. Kata adalah Doa. Betapa sering dulu aku berangan-angan untuk bisa merasakan hidup ngekost dan merantau. Dan Allah memang tak langsung menjabahnya, tapi kemudian, kala waktunya tiba, harapan itu menjadi kenyataan, bahkan disaat angan itu telah dilupa oleh alam fikirku.
Bekerja di NGO, membuat aku dan staff lainnya, harus traveling ke daerah-daerah terpencil dimana program kami diimplementasikan. Dan aku mulai merasakan pahit getir juga suka duka dari kegiatan 'merantau' ini. Berada di pulau terpencil, dalam keadaan tubuh yang fit, biasanya memberikan semangat dan gairah tersendiri. Kita bersemangat dan ceria menjalaninya. Namun kala tubuh kita sedang kurang sehat, namun tugas/pekerjaan tetap harus dijalankan, itu baru merupakan hal yang menyedihkan. Itu juga yang beberapa kali aku alami.
Mengalami sakit di kampung orang. Duuuh, sedih banget, aku pernah mengalaminya. Dan ini bukan di sebuah kampung atau desa lho sobs. Malah di kota besar, Jakarta gitu lho. Kala itu, aku ditugaskan untuk mengurus workshop nasional yang akan diselenggarakan di salah satu hotel ternama di ibukota ini. Eh kok malah demam. Demam tinggi dan batuk pula. Alhasil, aku harus bedrest, dan sama-sekali ga bisa beraktifitas. Udah itu, sendirian pula, karena kolega-kolega lainnya harus menjalankan tugas mereka, mempersiapkan dan mengawal jalannya workshop. Duuuh, rasanya gimanaaa gitu sobs! Pahit Gan!
Delapan tahun di tanah kelahiran, paska tsunami [2005 - 2012], membuat aktifitasku lebih banyak di 'rantau'. Rantau yang aku maksud disini adalah, keberadaanku lebih banyak di daerah-daerah dimana program kami diimplementasikan. Mengunjungi dan memonitor proyek. Mulai dari pulau terpencil seperti Nias dan Simeulu, hingga ke kabupaten-kabupaten yang telah maju pesat. Semuanya menambah kekayaan pengalamanku dalam hal melalang buana 'merantau'. Rasanya gimanaa gitu sobs.
Hingga kemudian, perantauaan yang sebenarnya pun aku jalani. Maksudnya?
Ya, kini aku benar-benar kembali merantau. Mengakhiri tugas di Aceh pada Maret 2012, lalu aku mulai mengembangkan sayap kecilku. Merantau ke Bekasi, seorang diri, untuk sebuah project pribadi.Rasanya gimana Al? Hm... rasanya gimana yaaa? Menyenangkan sih, tapi sediiiih juga, karena jauh dari Intan. Meninggalkannya di Banda Aceh sana, walau bersama ayah ibuku, tetap membuat hatiku sering diliput lara. Kangen!
Dan kini aku merentangkan sayap kecil ini dan terbang ke Bandung. Memulai hidup di rantau yang baru. Untuk apa dan apa yang membawamu ke Bandung Al? Hehe... pasti pada ga percaya kan jika aku bilang untuk main-main or having fun? Hahaha.
Ga usah tanya untuk apa deh sobs, yang jelas adalah untuk sesuatu yang bermanfaat bagiku dan keluargaku tentunya. .. :)
Posted by Unknown
LDR gue ni
LDR - Long Distance Relationship (sucks?)

Dijamin, pasti banyak yang mengerutkan kening dan pasang wajah bete saat melihat dan membaca kata LDR, yang nampaknya sukses bertransformasi menjadi momok dalam berpacaran. Banyak yang udah skeptis duluan, bahkan enggan menjalin hubungan berbasis long distance. Well, gak bisa disalahin juga, sih. Lah, di depan mata aja kalo mau bisa selingkuh, apa lagi jauh, ya?
Bayangin, kalau pacaran ala LDR, siapa yang dipeluk kalo kangen? Siapa yang diajak jalan kalo malam minggu? Gimana kalau seandainya beda zona waktu? Belum lagi mengatasi rasa cemburu yang bisa melanda tanpa aba-aba. Mirip-mirip lagunya Kangen Band yang Yolanda kali, ya. *Ow, I can not believe I just googled the lyric of this song. Hihihi*
"Kamu di mana? Dengan siapa?
semalam berbuat apa?
kamu di mana? Dengan siapa?
Di sini aku menunggumu dan bertanya…”
Nyebelin, kan? Udah cemburu, insecure, si dia gak kelihatan dan kita terpaksa menelan bulat-bulat kata-katanya dengan basis “saya percaya”. Ada yang bisa, banyak yang tetap cemburu membabi buta. Nggak heran, banyak hubungan long distance yang karam di tengah jalan karena issue ini. Nggak percaya sama pasangan. Padahal, setiap hubungan, mau long distance atau nggak, selalu berfondasi pada “trust”. Kalo versi gue, no trust, no relationship. Buat apa pacaran kalo makan hati karena curiga setiap saat? Bahkan tersangka teroris aja capek kalo dicurigai terus.
Belum lagi kalo kesepian dan merasakan kangen akut. Yang bisa dilakukan cuma manyun sambil peluk guling, ngelus-ngelus foto dia yang dijadikan wallpaper di hp, mendengarkan lagu kesayangan berdua sambil berurai airmata, atau menatap bintang di langit sambil berlinang air mata dan berbisik “Are you now looking at the same stars as I do? Do you know how much I miss you? Huhuhu…” Okay, mungkin ini lebay, tapi teteup ya rasa nyesek kalo kangen itu gak enak banget.
Itu baru kangen. Lah kalo lagi horny? Kasian si guling diciumin sampe bau iler. Kasian juga kamar mandi yang mungkin udah bosen jadi saksi dan tempat pembuangan sperma. :p
Lalu bagaimana seandainya pas si dia balik kita malah disibukkan dengan kerjaan dan nggak bisa ketemu setelah terpisah sekian lama? Udah memendam kangen sampe jerawatan sewajah-wajah, begitu ada kesempatan ketemu, Bos (yang mungkin dimaki dengan ‘keparat’) malah ngasih kerjaan yang gak bisa gak dikerjakan. Nyesek parah, Jendral!
Begitu ada kesempatan untuk bertemu, waktunya mepet. Tau-tau si dia harus balik ke kota tempat dia kerja. Time surely flies when you’re happy, or with the one you love, ya? Kembalilah lagi ke siklus malam-malam galau. mellow gak jelas, menatap nanar gelas yang berisi Baygon… *eh… nggak, ya?*
So yeah, many people say LDR sucks. Padahal gak juga kalo menurut gue. Selama tahan dan bisa sabar menahan rindu serta menjauhkan virus insecure, posesif, cemburu berlebihan dan most of all, percaya sama kekuatan cinta, any kind of relationship will work.
Gue ada nih, cerita tentang teman yang LDR an. Berawal di tahun 1999 gue kenalan sama satu orang, yang sampe sekarang jadi teman baik gue. Namanya, Arief. Suatu hari pas nginep di rumah, Arief cerita kalo dia lagi naksir sama orang. Tapi dia nggak punya keberanian buat ngomong. Gue penasaran. Si Arief ini terkenal sebagai pribadi yang gak gampang naksir sama orang. Kalo udah naksir, pasti ada yang ‘beda’. Jadi gue mulai mengorek-ngorek info, siapa sih yang dia taksir? Modelnya kayak apa? Mobilnya berapa? Depisitonya? *eh* Waktu Arief cerita, matanya berbinar-binar, khas orang yang lagi dimabuk cinta. Gue ngerasa senang untuk dia, tapi tentu saja, bagian ngeledekin si Arief sepanjang malam nggak akan gue lewatkan. Ngeliatin dia tersipu-sipu itu sungguh suatu hiburan gratis yang menyenangkan.
Setelah gue selidiki, yang Arief taksir adalah rekan satu kerjaan yang terkenal punya sifat pendiam dan gak suka bergaul sama orang lain. Dan kebetulan lagi, gue kenal! Naluri sebagai mak comblang menggebu-gebu. Tanpa sepengetahuan si Arief, gue menghubungi temannya. Gue selidiki, ni orang suka Arief gak? Eh ternyata suka, lho! Tapi dia merasa minder karena ngerasa Arief jauh lebih keren, bla bla bla. Gue tambah niat menjodohkan mereka berdua.
Saat si Arief kembali menginap, gue kasih tau ke temannya untuk nelpon. Dituruti. Pembicaraan dari kamar berlanjut sampe keluar kamar… Bahkan, mereka ngobrol dari pukul 12 sampe pukul 2. Mencurahkan isi hati masing-masing. Gue kepingin nguping, tapi kok ndak sopan, ya… Selesai nelpon, si Arief balik ke kamar, kepala gue ditoyor dan dia ngejerit “ALEX GUE UDAH PUNYA PACAR!!” I’m happy for him. :’) I really do.
Tapi kemudian, gue merasa menyesal menjodohkan si Arief. Lah, baru mulai pacaran, pacarnya udah posesip setengah mati. Diam-diam gue doain mereka cepet-cepet putus. Gimana gue gak bete dan kesel, si Arief setelah pacaran dilarang ketemuan sama teman-temannya tanpa sepengetahuan dia. Mau jalan sama gue aja susah. Nelpon pun gak boleh. Bok, posesifnya ngalahin ayam yang lagi ngerem telur, deh!
Lama-lama gue bete, dan gue telpon si Arief. Yang ngangkat pacarnya, ngomong dengan nada ketus, jangan ganggu Arief. Lah… Kok tambah nyebelin? Situ baru kenal sekian bulan, sini udah temenan bertahun-tahun, nyet. Tapi, bukan gue doang dilarang ketemu Arief, semua teman lainnya juga gitu. Akibatnya, si Arief gak punya kehidupan sosial selain sama pacarnya. Anehnya, Arief malah terlihat bahagia. Gue gak habis pikir, kok ada orang yang demen dikekang? Kartini aja ngelawan, kok.
Waktu akhirnya bisa ketemuan sama gue, Arief cerita menggebu-gebu tentang betapa romantisnya si pacar. Si pacar yang baik, begini, begitu… Melihat dia begitu bahagia, gue putuskan untuk nggak protes tentang sikap posesif pacarnya. Gak pa-pa deh, ketemu jarang-jarang. *sigh*
Hubungan mereka yang gue prediksi akan seumuran jagung, ternyata terus bertahan. Beberapa tahun kemudian, si Arief nyamperin gue. Wajahnya gloomy. Saat itu feeling gue mengatakan, dia putus sama pacarnya. Sebagai teman yang baik, tentunya gue merasa senang dia terlepas dari jeratan mak lampir posesif. Jahat, ya? Abisnya gue kesel! Eh, ternyata dia nggak putus!
"Lex, gue mau cerita…"
"Oh, masih inget kalo punya sahabat? Atau ingetnya pas lagi butuh?"
"Yah, lo kok judes?"
"Bawaan orok!" Dia langsung diem.
Gak tega liat tampangnya yang kayak belum makan tiga bulan, gue suruh dia cerita. Si Arief lagi bingung, pilih masa depan, atau pacar? Giliran gue yang bingung, maksudnya piye? Kok malah ngasih pertanyaan bego “pilih masa depan atau pacar?” YA JELAS PILIH MASA DEPAN, LAH! Tapi gue nggak ngomong apa-apa. Sometimes they just want you to listen, not preaching about how stupid they are. Setelah diam beberapa saat sambil memilin ujung beha, Arief pun cerita. Ternyata dia ditawari kerja. Di luar negri. Jeng jeng.
Kalo kerja di luar negri, otomatis dia harus LDR an, dan dia nggak yakin dia bisa, dan mau. Gue diem gak tau harus bilang apa, walaupun dalam hati gue nyengir sendiri, ngebayangin pacarnya yang super posesif pasti kayak kebakaran rumah begitu mendengarkan kabar ini. Sore yang gloomy tambah gloomy karena warung gue sepi. Setelah mikir beberapa saat, gue tanya dia dengan suara pelan
"Lo sayang dia gak?"
Sebenarnya ini pertanyaan yang agak retoris dan bodoh, karena kalau nggak cinta, masak iya dia bisa bertahan sekian lama? Tanpa ragu Arief mengangguk.
"Kalo gue gak sayang dia, ngapain gue bete begini? Tapi gue juga kepingin nyokap gue punya usaha, masa depan.."
Gue gak tahan lagi dan nyela si Arief abis-abisan, mengeluarkan kekesalan selama bertahun-tahun,
"Satu kerjaan aja dia posesif mampus. Gimana kalo lo kerja di luar negri? Mana mau pacar lo ditinggal-tinggal gitu?! Nggak mungkin kan lo selundupin dia dalam koper dan lo tenteng ke mana-mana?!"
"ITU YANG GUE PIKIRIN, DODOL! CARIIN SOLUSI MAKANYA!"
Lah dia nyolot. Tapi gue juga nggak tega mengeluarkan kata-kata pamungkas “PUTUSIN AJA!” Bukan gue banget. Selama masih ada cinta, pasti ada jalan tengah yang bisa ditempuh. Pasti. Gue cuma bisa ngasih nasihat klise yang mudah-mudahan masih manjur.
"Lo dengerin kata hati lo, lalu ikutin."
Dia diem. Lama. Entah apa yang dia pikirin.
Beberapa minggu kemudian, ada sms masuk.
"Gue jadi kerja di luar negri. Berangkat dua hari lagi. Wish me luck, Lex."
Gue pikir, dengan mengambil keputusan mendahulukan masa depan, si Arief memutuskan pacarnya. I was wrong. Pacarnya mau LDR an lho! Gue hampir keselek rambutan pas tau pacarnya mau pacaran jarak jauh. KOK BISA?! KOK MAU?! Rasa penasaran kian menggerogoti. Waktu akan berangkat, kita ketemuan lagi. Gue berondong Arief dengan sejuta dua ribu pertanyaan.
"Kok pacar lo mau? Dia kan posesif? Kan dia ngeliat lo jalan sama orang lain aja cemburunya kayak mau kiamat! Kan dia bla bla bla bli blu ble blo…."
Arief cuma senyum.
"Namanya juga cinta, bok…"
PLAK! Klise, nyet! Gue nyolot lagi, “Jangan-jangan dese ngiler sama gaji lo, ya?! Kan kerja di kapal pesiar gajinya gede!” Lho, kok gue yang jadi posesif sama sahabat sendiri, yak…
PLAK! Giliran gue ditoyor. Katanya, selama pacaran, kalo jalan mereka selalu keluar uang sendiri-sendiri. Kalo keluarin yang lain baru barengan. Hihihi…
Gue bisa ngeliat dari sorot matanya, kalo Arief emang benar-benar cinta sama si pacar. Ya sudah lah. Sahabat cuma bisa mendukung aja, kan?
Berangkatlah si Arief sebagai kru kapal pesiar. Selama dia merantau keliling Asia, gue jarang banget berhubungan. Susah sinyal, mak. Setahun kemudian, dia balik ke Indonesia. Selama sebulan, berduaan pacar mulu. Gue sih maklum, secara kan kangen. Tapi kok gue dilupain, ya? Bukannya gue nagih oleh-oleh sih *walaupun ngarep* tapi mbok ya temen lama jangan dilupakan, gituh… Ini malah sibuk pacaran doang.
Tapi Arief nemuin gue. Item. Ceking banget. Etapi badannya jadi sixpacks. Hihihi. Semalaman kita saling bertukar cerita. Ternyata kerja di kapal pesiar itu capeknya luar biasa, dengan hasil yang membuat gue menelan ludah. Kerja setahun, nyokapnya bisa naik haji, punya usaha sendiri. Wogh!
Gue tanya, “Pacar lo gimana selama setahun? Gimana kalian berkomunikasi?”
"3 bulan pertama kita nangis-nangisan di telpon" Suaranya sendu…
Gue gak tahan kalo gak nyela, “Dangdut deh lo, Rif..”
Lagi-lagi gue ditoyor.
"Lo belum pernah ngerasain kangen yang amat sangat sampe rasanya dada lo sakit banget, sih!"
Gue “…” *skak mat, gak bisa ngomong apa-apa secara waktu itu gue fakir asmara bener*
"Gue pikir gue nggak akan sanggup LDR an, Lex. Pacar gue juga mikir dia nggak akan sanggup. Tapi… kalo dijalani, bisa, lho."
Arief melanjutkan, walau posesif banget, pacarnya percaya dia nggak akan macem-macem. Wow. Ada ya orang gitu? Bukannya posesif = cemburuan? Rumus universalnya begitu, kan? Cemburu itu kembarannya posesif dan punya sepupu iblis yang namanya insecure dan abang yang bernama tukang curiga.
Gue kaget banget saat Arief bilang, dua minggu lagi dia akan berlayar. Kali ini rutenya Eropa. NJRIT! KEPINGIN IKUT!! Lebih kaget lagi, pacar si Arief juga ngelamar kerja di kapal pesiar, dan dapet kapal pesiar yang beda. Ke…. Amerika. Rasanya saat itu gue kepingin ambil pisau dan nancepin ke jantung. Arief keliling Eropa, pacarnya keliling Amerika. Gue stuck di Indonesia. Ngiri dikit boleh, ya? Bohong, deng. GUE NGIRI BANYAK! BANGET! Tapi kemudian gue sadar. Tiap manusia punya jalan hidup yang berbeda. Mungkin Arief dan pacarnya ditakdirkan untuk keliling dunia, sedangkan gue di sini ditakdirkan untuk menulis artikel ini, ngebahas dia sambil senyum karena gue ngerti pentingnya untuk bersyukur atas apa yang gue punya.
Dengan frekuensi kerjaan yang bertabrakan terus, Arief dan pacarnya makin jarang ketemu. Tapi, mereka tetap pacaran. Saling setia. Sekarang, masa pacaran mereka udah memasuki tahun ke… 9. *standing ovation, tepuk tangan sambil jumpalitan dan nungging manja*
Terakhir balik ke Indonesia tahun lalu, Arief bahkan gak sempat ketemu gue. Dikekepin pacarnya terus. Sebel tapi maklum. :) LDR beda benua, beda zona waktu. Komunikasi jarang-jarang, tapi bertahan, bahkan makin cinta. Power of love. :)
Si Arief pernah curhat, dia nelpon pacarnya dari Koln, Jerman, ke Amerika, cuma denger kata “halo” lalu keputus, tapi udah bahagia banget. Kadang cinta itu sederhana, ya. Sayang manusia yang membuatnya begitu rumit. Kalo gak ribet gak asik.
Oh oh, waktu gue ulang tahun ke 28, si Arief pas di Indonesia, dan bela2in ngerayain bareng gue, lho. Padahal untuk kabur dari pacarnya tuh susah. Tapi dia berhasil juga. Sampe sekarang sih gue masih sebel sama pacarnya yang posesif gak jelas itu. Tapi asalkan temen gue bahagia, gak pa-pa, deh.
Akhir kata: People do stupid things in the name of love all the time. As long as they’re happy, why not? Jadi, kata siapa LDR cuma membawa luka?
Posted by Unknown
Cara Memasang Logo Universitas Gunadarma di Blog
Cara Memasang Logo Universitas Gunadarma di Blog
Pada postingan sebelumnya saya mengatakan akan mengajarkan cara
memasang logo / gambar dari universitas gunadarma untuk keperluan tugas
softskill .tapi cara ini saya tunjukkan untuk blog berdomain Blogspot
ya. yaps .tanpa berlama-lama silahkan baca dan pahami langkah di bawah ini !
- Langkah Pertama : masuk dahulu ke account Blog kamu .
tau dong caranya ? masuk ke www.blogger.com lalu masukkan email dan password kamu dan otomatis akan di arahkan ke dasbor blogger !
- Langkah Pertama : masuk dahulu ke account Blog kamu .
tau dong caranya ? masuk ke www.blogger.com lalu masukkan email dan password kamu dan otomatis akan di arahkan ke dasbor blogger !
- Selanjutnya pada dasbor ,klik pada gambar berwarna merah ,seperti gambar dibawah ini :
setelah
itu pilih tata letak dan klik . lalu akan tampil rancangan/ desain blog
kamu . lalu tentukan dibagian mana kamu akan memasang gambar tersebut , lalu
klik tambahkan gadget .
- selanjutnya akan muncul tampilan banyak pilihan . dari pilihan-pilihan tersebut ,kamu pilih Gambar dan klik .
- anda akan di proses
ke halaman web baru , tunggu sampai muncul gambar seperti gambar
disamping >>- selanjutnya akan muncul tampilan banyak pilihan . dari pilihan-pilihan tersebut ,kamu pilih Gambar dan klik .
- isilah judul yang kamu mau . lalu isi pada hubungan www.gunadarma.ac.id . setelah itu kamu upload gambar gunadarma dengan cara klik pada kotak pilih file . lalu pilih gambar dari komputer kamu , jika belum ada ya silahkan di download dahulu ya , jika gambar sudah ter upload , klik simpan .
- nah maka secara otomatis gambar gunadarma akan muncul pada letak yang kamu tentukan . jika logo itu di klik maka akan langsung menuju halaman website www.gunadarma .ac.id.
itulah tata cara memasang gambar pada blog Blogspot . kritik dan saran sangat saya harapkan ,semoga tulisan ini bermanfaat dan terima kasih telah berkunjung ke blog saya