news studentsite
Archive for Mei 2014
Dinamika Organisasi
Dinamika
Organisasi (konflik,strategi,organisasi)


1.Dinamika
Organisasi
Jika dilihat dari asal katanya, dinamika memiliki
arti tenaga/kekuatan yang selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan
diri secara memadai terhadap setiap keadaan keadaan. Sedangkan organisasi
merupakan kumpulan orang-orang yang merupakan kesatuan sosial yang mengadakan
interaksi yang intensif dan mempunyai tujuan bersama.
Dengan demikian dinamika organisasi merupakan sebuah
konsep yang menggambarkan proses kelompok yang selalu bergerak, berkembang dan
dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah-ubah.
Selain itu dinamika organisasi dapat juga diartikan
sebagai suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu, memiliki
hubungan psikologi secara jelas antara anggota satu dengan yang lain yang dapat
berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama.
Berdasarkan pernyataan diatas maka dinamika
organisasi pada dasarnya merupakan proses-proses kelompok yang menggambarkan
semua hal yang terjadi dalam kelompok akibat adanya interaksi individu-individu
yang ada dalam kelompok itu.
Dinamika
Organisasi adalah suatu organisasi yang terdiri dari dua atau lebih individu
yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang
lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.Didalam dinamika organisasi ada
beberapa hal yang sering terjadi ,antara lain:
Fungsi Dinamika Organisasi
Dinamika organisasi merupakan kebutuhan bagi setiap
individu yang hidup dalam sebuah kelompok. Fungsi dari dinamika organisasi itu
antara lain:
1.
Membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan
hidup. (Bagaimanapun manusia tidak bisa hidup
sendiri tanpa bantuan orang lain.)
2. Memudahkan segala pekerjaan.
(Banyak pekerjaan yang tidak dapat dilaksanakan
tanpa bantuan orang lain)
3.
Mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi
beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga selesai lebih cepat, efektif dan
efesian.
(pekerjaan besar dibagi-bagi sesuai bagian
kelompoknya masing-masing / sesuai keahlian)
4.
4. Menciptakan iklim
demokratis dalam kehidupan masyarakat
(setiap
individu bisa memberikan masukan dan berinteraksi dan memiliki peran yang sama
dalam masyarakat)
Semakin
besar ukuran suatu organisasi semakin cenderung menjadi kompleks keadaannya. Kompleksitas ini menyangkut
berbagai hal seperti kompleksitas alur informasi, kompleksitas komunikasi,
kompleksitas pembuat keputusan, kompleksitas pendelegasian wewenang dan
sebagainya.
Sebagai
contoh, seorang pimpinan yang ingin memajukan organisasinya, harus memahami
factor-faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya konflik, baik konflik di
dalam individu maupun konflik antar perorangan dan konflik di dalam kelompok
dan konflik antar kelompok.
Konflik
Konflik
adalah perbedaan pendapat antara anggota satu dengan yang lain akibat
kurangnya komunikasi di dalam organisasi.Konflik Organisasi (organizational
conflict) adalah ketidaksesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota atau
kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus
membagi sumber daya- sumber daya yang terbatas atau kegiatan-kegiatan kerja dan
atau kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai dan
persepsi.Konflik dapat menimbulkan bermacam-macam dinamika prilaku
berorganisasi.
Jenis-jenis konflik:
Berikut ini adalah lima jenis konflik dalam
kehidupan organisasi :
·
Konflik dalam diri individu Konflik
terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak
mungkin dipenuhi sekaligus.
·
Konflik antar individu dalam
organisasi yang sama karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini
sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan
lain-lain.
·
Konflik antar individu dan kelompok
seringkali berhubungan dengan cara individumenghadapi tekanan-tekanan untuk
mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka.
·
Konflik antar kelompok dalam
organisasi yang sama Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di
dalam organisasiorganisasi.Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja.
·
Konflik antar organisasi konflik ini
biasanya disebut dengan persaingan.
Penyebab Terjadinya Konflik
Suatu situasi
dimana tujuan-tujuan tidak sesuai Keberadaan peralatan-peralatan yang tidak
cocok atau alokasi-alokasi sumber daya yang tidak sesuai Suatu masalah yang tidak tepatan
status Perbedaan
pandangan. Adanya
aspirasi yang tidak ditampung.
1.
Strategi Dalam Menyelesaikan Konflik
Mengendalikan
konflik berarti menjaga tingakat konflik yang kondusif bagi perkembangan
organisasi sehingga dapat berfungsi untuk menjamin efektivitas dan dinamika
organisasi yang optimal. Namun bila konflik telah terlalu besar dan
disfungsional, maka konflik perlu diturunkan intensitasnya, antara lain dengan
cara :
1.
Mempertegas atau menciptakan tujuan
bersama. Perlunya dikembangkan tujuan kolektif di antara dua atau lebih unit
kerja yang dirasakan bersama dan tidak bisa dicapai suatu unit kerja saja.
2.
Meminimalkan kondisi
ketidak-tergantungan. Menghindari terjadinya eksklusivisme diatara unit-unit
kerja melalui kerjasama yang sinergis serta membentuk koordinator dari dua atau
lebih unit kerja.
3.
Memperbesar sumber-sumber organisasi
seperti : menambah fasilitas kerja, tenaga serta anggaran sehingga mencukupi
kebutuhan semua unit kerja.
4.
Membentuk forum bersama untuk
mendiskusikan dan menyelesaikan masalah bersama. Pihak-pihak yang berselisih
membahas sebab-sebab konflik dan memecahkan permasalahannya atas dasar
kepentingan yang sama.
2.DINAMIKA KONFLIK
Konflik berasal dari kata
kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik
diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga
kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik
dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu
interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri
fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya.
Dengan di bawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik
merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat
pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok
masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya
masyarakat itu sendiri.
II.1 Akibat Konflik
Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut :
·
meningkatkan solidaritas sesama anggota
kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.
·
keretakan hubungan antar kelompok yang
bertikai.
·
perubahan kepribadian pada individu,
misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll.
·
kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa
manusia.
·
dominasi bahkan penaklukan salah satu
pihak yang terlibat dalam konflik.
Para pakar teori telah
mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap
konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita
dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya.
Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut:
·
Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua
belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang
terbaik.
·
Pengertian yang tinggi untuk hasil kita
sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk “memenangkan” konflik.
·
Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak
lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan “kemenangan” konflik
bagi pihak tersebut.
·
Tiada pengertian untuk kedua belah pihak
akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik.
II.2 Contoh Konflik
·
Konflik Vietnam berubah menjadi perang.
·
Konflik Timur Tengah merupakan contoh
konflik yang tidak terkontrol, sehingga timbul kekerasan. hal ini dapat dilihat
dalam konflik Israel dan Palestina.
·
Konflik Katolik-Protestan di Irlandia
Utara memberikan contoh konflik bersejarah lainnya.
·
Banyak konflik yang terjadi karena
perbedaan ras dan etnis. Ini termasuk konflik Bosnia-Kroasia (lihat Kosovo),
konflik di Rwanda, dan konflik di Kazakhstan.
III. JENIS-JENIS
KONFLIK
Ada lima jenis konflik yaitu;
konflik intrapersonal, konflik interpersonal, konflik antar individu dan
kelompok,
konflik antar kelompok dan konflik antar organisasi.
1. Konflik
Intrapersonal
Adalah konflik
seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi
bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak
mungkin
dipenuhi sekaligus.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam diri seseorang itu biasanya terdapat
hal-hal sebagai berikut:
1.
Sejumlah kebutuhan-kebutuhan dan
peranan-peranan yang bersaing
2.
Beraneka macam cara yang berbeda yang
mendorong peranan-peranan dan kebutuhan-kebutuhan itu terlahirkan.
3.
Banyaknya bentuk halangan-halangan yang
bisa terjadi di antara dorongan dan tujuan.
4.
Terdapatnya baik aspek yang positif maupun
negatif yang menghalangi tujuan-tujuan yang diinginkan.
` Hal-hal di atas dalam
proses adaptasi seseorang terhadap lingkungannya dapat menimbulkan konflik. Kalau konflik dibiarkan maka akan menimbulkan
keadaan yang tidak menyenangkan.
Ada tiga macam bentuk
konflik intrapersonal yaitu :
1.
Konflik pendekatan-pendekatan, contohnya
orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menarik.
2.
Konflik pendekatan – penghindaran,
contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama
menyulitkan.
3.
Konflik penghindaran-penghindaran, contohnya
orang yang dihadapkan pada satu hal yang mempunyai nilai positif dan
negatif sekaligus.
2. Konflik
Interpersonal
Adalah pertentangan
antar seseorang dengan orang lain karena pertentangan kepentingan atau
keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status,
jabatan, bidang kerja dan lain-lain.
Konflik interpersonal
ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi.
Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa
anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempengaruhi proses pencapaian
tujuan organisasi tersebut.
3. Konflik antar
individu-individu dan kelompok-kelompok
Hal ini seringkali
berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok
kerja mereka. Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat
dihukum oleh kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma
produktivitas kelompok dimana ia berada.
4. Konflik antara
kelompok dalam organisasi yang sama
Konflik ini merupakan
tipe konflik yang banyak terjadi di dalam organisasiorganisasi. Konflik antar
lini dan staf, pekerja dan pekerja – manajemen merupakan dua macam bidang
konflik antar kelompok.
5. Konflik antara
organisasi
Contoh seperti di
bidang ekonomi dimana Amerika Serikat dan negara-negara lain dianggap
sebagai bentuk konflik, dan konflik ini biasanya disebut dengan persaingan.
Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan timbulnya
pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga lebih
rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
IV. SUMBER-SUMBER
KONFLIK
Sumber konflik dalam organisasi dapat ditelusuri melalui :
·
Konflik dalam diri individu (intrapersonal
conflict)
·
Konflik antar individu (Interpersonal
conflict)
·
Konflik antar kelompok (Intergroup
conflict)
·
Konflik antar individu dengan kelompok.
1. Konflik dalam diri
individu (Intrapersonal conflict)
Terdiri dari 2 sumber konflik;
1.
Konflik ini bisa berasal dari dalam diri.
Menurut Luthan (2002 : 400), penyebab dari dalam bisa bersumber dari
sifat-sifat atau ciri-ciri kepribadian dari orang yang bersangkutan. Selain itu, penyebab konflik dalam diri adalah
apa yang disebut goal conflict. Hal ini terjadi karena seseorang diperhadapkan
pada dua tujuan atau karena harus membuat keputusan untuk memilih alternative
yang terbaik.
2.
Konflik yang bersumber dari luar.
Misalnya, tuntutan lingkungan kerja yang baru, kehilangan kebebasan pribadi,
erosi kontak wajah, terus-menerus dipaksa mempelajari keterampilan kerja baru
karena tuntutan pekerjaan, dan terlewatkan dalam promosi jabatan.
2. Konflik antar
individu (Interpersonal conflict)
Konflik ini dapat
terjadi karena perbedaan latar belakang individu (perbedaan pendidikan, keahlian,
keterampilan, pengalaman kerja, dan nilai hidup), kemudian karena perbedaan
latar belakang sosial (perbedaan budaya, agama, dan sebagainya), serta
perbedaan ciri-ciri pribadi (lemah lembut, kasar, tegas, plin-plan, agresif,
dan sebagainya).
Di kategori ini, di
samping konflik yang bersumber dari latar belakang dan ciri kepribadian
individu, terdapat juga sumber-sumber lain seperti kekurangan informasi
(information deficiency), persaingan dalam perebutan pengaruh, persaingan dalam
memperoleh jabatan, pertentangan kepentingan pribadi (misalnya perebutan mobil
dinas), konflik antar peranan (seperti antara manajer dan bawahan), melewati
batas-batas territorial (letak barang seperti meja yang lewat batas, atau mobil
salah parker), gaya kepemimpinan (misalnya pemimpin yang kasar yang menyakiti
hati banyak orang yang dipimpinnya.
3. Konflik antar
kelompok (Intergroup Conflict)
Dalam organisasi, terdapat beberapa factor yang menyebabkan konflik.
1.
Perbedaan dalam tujuan dan prioritas.
Setiap sub unit dalam organisasi memiliki tujuan dan prioritas khusus.
Misalnya, dalam hubungan kerja, bagian pemasaran ingin agar produknya cepat
laku. Kalau perlu dijual murah dan dengan cara kredit. Sebaliknya, bagian
keuangan menghendaki pembayaran harus tunai agar posisi kekuangan perusahaan
tetap stabil.
2. Saling ketergantungan tugas (task
interdependence). Ada yang disebut ketergantungan berurutan (sequential
interdependence), dimana output dari suatu unit merupakan input dari unit lain.
Misalnya, untuk merespon suatu surat permohonan, kepala bagian masih harus
menunggu disposisi dari atasannya. Ada juga yang disebut ketergantungan timbal
balik (reciprocal interdependence), seperti hubungan antara dokter, rumah sakit
dan laboratorium.
3. Konflik yang disebabkan oleh pembagian sumber
daya (resource interdependence). Antarunit kerja bersaing karena untuk
mendapatkan sumber daya yang lebih (personil, dana, material, peralatan,
ruangan, fasilitas computer dan lainnya).
4.
Deskripsi tugas yang tidak jelas. Ini pun
akan mengakibatkan konflik. Kekaburan karena tidak ada guide lines dan policies
yang jelas, akan membuat kelompok lainnya tersinggung karena dilangkahi.
5.
Perbedaan kekuasaan dan status. Biasanya
terjadi karena suatu departemen merasa lebih penting atau memiliki rasa over
value ketimbang departemen lainnya. Departemen yang lainnya pasti akan merasa
dilecehkan.
6.
Perbedaan sistim imbalan dan intensif yang
diatur per-unit, bukan berdasarkan tujuan organisasi
7.
Faktor birokratik (lini-staf), dimana
pegawai lini memiliki wewenang dalam proses pengambilan keputusan sementara
staf lebih pada memberikan rekomendasi atau saran. Sering pegawai lini merasa
lebih penting, sementara staf merasa lebih ahli. Ujung-ujungnya konflik.
8.
Sistem komunikasi dan informasi yang
terganggu. Kadang, terjadi misunderstanding di kalangan pelaku organisasi
karena informasi yang diterima kurang jelas atau bertentangan dengan tujuan
yang sebenarnya.
4. Konflik antara
individu dan kelompok.
Konflik di sini
biasanya dipicu oleh beberapa hal, seperti : anggota kelompok yang tidak dapat
memenuhi harapan dan standar kerja, individu yang melanggar norma yang
disepakati, serta individu yang melecehkan atau mempermalukan kelompok.
Ray Pneuman (dalam
Stevanin, 2000 : 134) mengidentifikasi sumber-sumber konflik antara individu
dan kelompok di dalam organisasi. Menurutnya, konflik dapat berlaku jika ada
perbedaan nilai dan keyakinan dari anggota organisasi, tidak jelasnya struktur
organisasi, tidak cermatnya peran dan tanggung jawab pimpinan, berkembangnya
struktur organisasi ke arah yang lebih besar dan luas, tidak berpadunya gaya
kepemimpinan yang dipraktekkan oleh manajer dengan para karyawan, pimpinan baru
yang terlalu cepat diangkat, komunikasi yang kurang lancar, pertentangan yang
tidak terantisipasi oleh pimpinan, para karyawan yang tidak mau menunjang dan
berpartisipasi atau pimpinan baru yang masih mengikuti pola lama dari pimpinan
yang digantikannya yang tidak disukai karyawan.
V. STRATEGI
PENYELESAIAN KONFLIK
Untuk menangani
konflik dengan efektif, kita harus mengetahui kemampuan diri
sendiri dan juga pihak-pihak yang mempunyai konflik. Ada beberapa cara
untuk menangani konflik antara lain :
1. Introspeksi diri
Bagaimana kita
biasanya menghadapi konflik ? Gaya pa yang biasanya digunakan?
Apa saja yang menjadi dasar dan persepsi kita. Hal ini penting untuk
dilakukan sehingga kita dapat mengukur kekuatan kita.
2. Mengevaluasi
pihak-pihak yang terlibat.
Sangat penting bagi
kita untuk mengetahui pihak-pihak yang terlibat. Kita dapat mengidentifikasi
kepentingan apa saja yang mereka miliki, bagaimana nilai dan sikap mereka
atas konflik tersebut dan apa perasaan mereka atas terjadinya konflik.
Kesempatan kita untuk sukses dalam menangani konflik semakin besar jika kita
melihat konflik yang terjadi dari semua sudut pandang.
3. Identifikasi sumber
konflik
Konflik tidak muncul
begitu saja. Sumber konflik sebaiknya dapat teridentifikasi sehingga sasaran
penanganannya lebih terarah kepada sebab konflik.
4. Mengetahui pilihan
penyelesaian atau penanganan konflik yang ada dan memilih yang tepat.
Spiegel (1994)
menjelaskan ada lima tindakan yang dapat kita lakukan dalam penanganan konflik:
a. Berkompetisi
Tindakan ini dilakukan
jika kita mencoba memaksakan kepentingan sendiri diatas kepentingan pihak lain.
Pilihan tindakan ini bisa sukses dilakukan jika situasi saat itu membutuhkan
keputusan yang cepat, kepentingan salah satu pihak lebih utama dan pilihan kita
sangat vital. Hanya perlu diperhatikan situasi menang – kalah (win-win
solution) akan terjadi disini. Pihak yang kalah akan merasa dirugikan dan dapat
menjadi konflik yang berkepanjangan. Tindakan ini bisa dilakukan dalam hubungan
atasan – bawahan, dimana atasan menempatkan kepentingannya (kepentingan
organisasi) di atas kepentingan bawahan.
b. Menghindari konflik
Tindakan ini dilakukan
jika salah satu pihak menghindari dari situsasi tersebut secara fisik
ataupun psikologis. Sifat tindakan ini hanyalah menunda konflik yang
terjadi. Situasi menag kalah terjadi lagi disini. Menghindari konflik
bisa dilakukan jika masing-masing pihak mencoba untuk mendinginkan suasana,
mebekukan konflik untuk sementara. Dampak kurang baik bisa terjadi jika
pada saat yang kurang tepat konflik meletus kembali, ditambah lagi jika
salah satu pihak menjadi stres karena merasa masih memiliki hutang menyelesaikan persoalan
tersebut.
c. Akomodasi
Yaitu jika kita mengalah dan mengorbankan beberapa kepentingan
sendiri agar pihak lain mendapat keuntungan dari situasi konflik itu. Disebut juga sebagai self sacrifying behaviour. Hal ini dilakukan jika
kita merasa bahwa kepentingan pihak lain lebih utama atau kita ingin tetap menjaga
hubungan baik dengan pihak tersebut. Pertimbangan antara kepentingan pribadi
dan hubungan baik menjadi hal yang utama di sini.
d. Kompromi
Tindakan ini dapat dilakukan jika ke dua belah pihak merasa bahwa kedua
hal tersebut sama –sama penting dan hubungan baik menjadi yang uatama. Masing-masing
pihak akan mengorbankan sebagian kepentingannya untuk mendapatkan situasi
menang-menang (win-win solution)
e. Berkolaborasi
Menciptakan situasi menang-menag dengan saling bekerja sama. Pilihan
tindakan ada pada diri kita sendiri dengan konsekuensi dari masing-masing
tindakan. Jika terjadi konflik pada lingkungan kerja, kepentingan dan hubungan
antar pribadi menjadai hal yang harus kita pertimbangkan.
3.MOTIVASI
Adalah
dorongan psikologis yang mengarahkan seseorang ke arah suatu tujuan. Motivasi
membuat keadaan dalam diri individu muncul, terarah, dan mempertahankan
perilaku, menurut Kartini Kartono motivasi menjadi dorongan (driving force)
terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu.
Motivasi ada dalam diri manusia terdorong oleh karena adanya :
1.
Keinginan untuk hidup
2.
Keinginan untuk memiliki
sesuatu
3.
Keinginan akan kekuasaan
4.
Keinginan akan adanya
pengakuan
Sehingga
secara singkat, motivasi dapat diartikan sebagai dorongan atau keinginan yang
dapat dicapai dengan perilaku tertentu dalam suatu usahanya.
Motivasi
yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan
yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat
motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan
motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa
yang dikehendaki oleh individu lain/ organisasi.
1. TEORI MOTIVASI
Ada tiga motivasi utama yang sering diajukan,
yaitu :
1. Model Tradisional
sering
disebut model klasik, dicetuskan oleh Frederick Winslow Taylor. Model ini
menyatakan bahwa motivasi pada seseorang hanya dipandang dari sudut pemenuhan
kebutuhan fisik atau biologis saja. Khususnya untuk pekerja hanya dapat
dimotivasi dengan imbalan uang.
2. Model Human Relation
Diartikan
sebagai model hubungan manusiawi dengan penekanan pada kontak sosial merupakan
kebutuhan bagi manusia yang bekerja dalam suatu organisasi.. Model ini
dicetuskan oleh Elton Mayo sebagai akibat kejenuhan karyawan dalam melakukan
pekerjaan yang sama secara berulang. Elton Mayo menekankan pada pentingnya
pengakuan atau penghargaan terhadap kebutuhan sosial pekerja.
3.
Model Sumberdaya Manusia
Dengan penekanan pada motivasi tidak hanya oleh
masalah pemenuhan kebutuhan
biologis saja akan tetapi juga kebutuhan mendapatkan kepuasan.
1.
Teori Hierarki Kebutuhan, menurut Maslow didalam diri setiap manusia
ada lima jenjang kebutuhan, yaitu:
- faali (fisiologis)
- Keamanan, keselamatan dan perlindungan
- Sosial, kasih saying, rasa dimiliki
- Penghargaan, rasa hormat internal seperti harga diri, prestasi
- Aktualisasi-diri, dorongan untuk menjadi apa yang mampu ia menjadi.
- faali (fisiologis)
- Keamanan, keselamatan dan perlindungan
- Sosial, kasih saying, rasa dimiliki
- Penghargaan, rasa hormat internal seperti harga diri, prestasi
- Aktualisasi-diri, dorongan untuk menjadi apa yang mampu ia menjadi.
Jadi jika seorang pimpinan ingin memotivasi
seseorang, menurut Maslow, pimpinan perlu memahami sedang berada pada anak
tangga manakah bawahan dan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu
atau kebutuhan dia atas tingkat itu.
2. Teori X dan Y , teori yang
dikemukakan oleh Douglas McGregor yang menyatakan bahwa dua pandangan yang
jelas berbeda mengenai manusia, pada dasarnya satu negative (teori X) yang
mengandaikan bahwa kebutuhan order rendah mendominasi individu, dan yang lain
positif (teori Y) bahwa kebutuhan order tinggi mendominasi individu.
3. Teori Motivasi – Higiene,
dikemukakan oleh psikolog Frederick Herzberg, yang mengembangkan teori kepuasan
yang disebut teori dua faktor tentang motivasi.. Dua factor itu dinamakan
factor yang membuat orang merasa tidak puas atau factor-faktor motivator iklim
baik atau ekstrinsik-intrinsik tergantung dari orang yang membahas teori
tersebut. Faktor-faktor dari rangkaian ini disebut pemuas atau motivator yang
meliputi:
- prestasi (achievement)
- Pengakuan (recognition)
- Tanggung Jawab (responsibility)
- Kemajuan (advancement)
- Pkerjaan itu sendiri ( the work itself)
- Kemungkinan berkembang (the possibility of growth)
- Pengakuan (recognition)
- Tanggung Jawab (responsibility)
- Kemajuan (advancement)
- Pkerjaan itu sendiri ( the work itself)
- Kemungkinan berkembang (the possibility of growth)
4. Teori kebutuhan McClelland,
teori ini memfokuskan pada tiga kebutuhan
- prestasi (achievement)
- Kekuasaan (power)
- Afiliasi (pertalian)
- prestasi (achievement)
- Kekuasaan (power)
- Afiliasi (pertalian)
5. Teori Harapan – Victor
Vroom, teori ini beragumen bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk
bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu
pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu dan
pada daya tarik dari keluaran tersebut bagi individu tersebut. Teori
pengharapan mengatakan seorang karyawan dimotivasi untuk menjalankan tingkat
upaya yang tinggi bila ia meyakini upaya akan menghantar kesuatu penilaian
kinerja yang baik, suatu penilaian yang baik akan mendorong ganjaran-ganjaran
organisasional, seperti bonus, kenaikan gaji, atau promosi dan ganjaran itu
akan memuaskan tujuan pribadi karyawan tersebut.
6. Teori Keadilan, teori
motivasi ini didasarkan pada asumsi bahwa orang-orang dimotivasi oleh keinginan
untuk diperlakukan secara adil dalam pekerjaan, individu bekerja untuk mendapat
tukaran imbalan dari organisasi.
7.
Teori Penguatan, teori ini
tidak menggunakan konsep suatu motive atau proses motivasi. Sebaliknya teori ini
menjelaskan bagaimana konsekuensi perilaku dimasa yang lalu mempengaruhi
tindakan dimasa yang akan dating dalam proses pembelajaran.
Berbagai pandangan tentang motivasi dalam organisasi
Berbagai pandangan tentang motivasi dalam organisasi
RANGKUMAN
Sumber-sumber
konflik organisasional sebagian besar merupakan hasil dinamika interaksi
individual dan kelompok serta proses–proses psikologis. Kemampuan menangani
konflik tentang terutama yang menduduki jabatan Pimpinan dalam suatu organisasi
besar maupun kecil. Yang terpenting adalah mengembangkan pengetahuan yang cukup
dan sikap yang positif terhadap konflik, karena peran konflik yang tidak selalu
negatif terhadap organisasi.
Oleh
karena itu, konflik sendiri tidak selalu harus dihindari karena tidak selalu
negatif akibatnya. Berbagai konflik yang ringan dan dapat dikendalikan (dikenal
dan ditanggulangi) dapat berakibat positif bagi mereka yang terlibat maupun
bagi organisasi.
Sumber
: