news studentsite

Posted by : Unknown Selasa, 21 April 2015


Kicki

            Sepanjang masa kanak-kanakku, aku tak henti-hentinya bermimpi menjadi anak tunggal, tak ada yang mengajak berkelahi, tak perlu berbagi, tak ada yang merebut remote dari tangaanku saat sedang menonton acara pertandingan besar. Aku akan mendapatkan kamar tidur terbesar dalam rumah dan bisa berbicara di telepon selama yang aku inginkan, tanpa di tanyai sejuta kali, “Kau udah selesai belum ?” Tapi kenyataannya aku tidak dilahirkan sebagai anak tunggal, aku dilahirkan dengan seorang kakak perempuan. Aku selalu memanggilnya “Kicki,” bukan nama aslinya, melainkan Christine, karena waktu masih kecil, aku tidak bisa menggucapkan r dan s. Sampai hari ini, ia masih kupanggil “Kicki”.
           
 Aku mulai bermain basket ketika berumur delapan tahun. Ayah adalah pelatih timku, dan ibuku menghitung angka. Jadi, kakak perempuanku tidak cukup umur untuk tinggal di rumah sendirian, terpakasa kakak perempuanku menonton semua semua pertandinganku. Aku ingat saat melihat kekursi penonton, mencari dukungan ibuku ketika sedang bermain, tampak wajah kakakku yang memeperlihatkan mimik bingung. Jelas ia sebenarnya tidak senang berada di sana, tapi ia tetap menyoraki bersama yang lain. Rambutnya di potong pendek, hampir sependek rambutku, dan giginya menonjol ke luar. Aku sering menggodanya, memanggilnya “barang-barang tonggos”. Ia bukan anak perempuan yang menarik, dan ia lebih terlihat seperti kakak laki-lakiku.
          
  Sesudah pertandinga, dalam perjalanan pulang di mobil, aku dan orangtuaku mengulangi setiap gerakan yang kulakukan di lapangan. Kakak perempuanku duduk diam di kursi belakang denganku. Tidak tahu cara atau kapan melibatkan diri dalam pembicaraan. Pada malam hari ia biasanya masuk ke kamarku dan berkata, “Selamat malam, brad. Permainanmu bagus”. Aku biasanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Aku tidak pernah menanggapi pujiannya dengan serius. Maksudku, ia tidak mengerti apa yang terjadi dalam permainanku, ia tidak munkin tahu apakah aku sudah bermain bagus atau tidak.
Barulah setelah masuk sekolah menengah aku sadar betapa baiknya kakak perempuanku itu. Semua orang mengenalnya dan sangat memujanya. Dan aku di panggil sebagai “adik laki-laki Christine”. Kicki ikut Penyambutan Siswa Baru pada tahun terakhirnya di sekolah menengah, dan ia berdiri tinggi serta cantik. Aku tercengang melihat sosoknya saat itu, pandai, baik, dan menawan. Bagiku, ia masih bocah perempuan sepuluh tahun dengan penampilan tomboi dan gigi tonggos.
          
 Aku bermain basket di sekolah menengah, dan meski Christine tidak lagi di paksa menonton pertandinganku, ia tetap datang setiap minggu, menyorakiku dari tempat duduk. Aku ingat khususnya sebuah pertandingan terakhir di musim itu. Kakakku duduk di bangku penonton  dengan pacarnya dan sekelompok besar teman-temannya. Tercetak di kausnya, dengan huruf-huruf merah besar, kata-kata”BRAD’S SISTER” “Kakak Perempuan Brad”. Tiba-tiba aku merasa malu. Tapi bukan kehadirannya yang membuatku malu, melainkan kenyataanya aku tidak pernah menghargai dukungannya sebelumnya. Ia tidak pernah malu menjadi kakak perempuanku, meski aku malu mengakuinya begitu bertahun-tahun yang lu. Ia tidak peduli pendapat orang lain, dan tak pernah peduli.
        
 Sekarang aku anak tunggal, kakakku pergi bersekolah di perguruan tinggi beberapa bulan setelah pertandingan terakhir itu. Aku akhirnya mendapat kamar tidur terbesar dalam rumah dan tak perlu berbagi remote control dengan siapapun. Tapi kini setelah ia pergi, aku agak merasa kehilangan seseorang yang bisa diajak berebut memakai ttelepon, sedangkan kamar tidur besar itu pun rasanya tak terlallu hebat.
Aku pergi mengunjunginya di sekolah pada sebuah akhir pekan, dan ketika aku sedang berdiri di luar asramanya, menunggu ia keluar, seorang temannya berjalan melewatiku dan bertanya, “Hei, kau adiknya Christine?” wajahku langsung bersinar-sinar dan dengan bangga aku berkata, “Ya, benar. Aku adiknya Christine.”

Buku, Chicken Soup

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Blogger templates

Diberdayakan oleh Blogger.

Gunadarma

Gunadarma

About

- Copyright © Erwin Blog -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -