news studentsite
- Back to Home »
- Sifat-Sifat Kepemimpinan
Posted by : Unknown
Rabu, 23 April 2014
Sifat-Sifat
Kepemimpinan

Upaya untuk menilai sukses tidaknya pemimpin itu
dilakukan antara lain dengan mengamati dan mencatat sifat-sifat dan kualitas
atau mutu perilakunya, yang dipakai sebagai kriteria untuk menilai
kepemimpinannya. Usaha-usaha yang sistematis tersebut membuahkan teori sifat
atau kesifatan dari kepemimpinan.
Dalam Handoko (1995: 297) Edwin Ghiselli mengemukakan teori mereka tentang teori kesifatan atau sifat kepemimpinan. Edwin Ghiselli mengemukakan 6 (enam) sifat kepemimpinan yaitu :
1) Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas
(supervisory ability) atau pelaksana fungsi-fungsi dasar manajemen.
2) Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, mencakup
pencarian tanggung jawab dan keinginan sukses.
3) Kecerdasan, mencakup kebijakan, pemikiran kreatif,
dan daya piker.
4) Ketegasan, atau kemampuan untuk membuat
keputusan-keputusan dan memecahkan masalah-masalah dengan cakap dan tepat.
5) Kepercayaan diri, atau pandangan terhadap dirinya
sehingga mampu untuk menghadapi masalah.
6) Inisiatif, atau kemampuan untuk bertindak tidak
tergantung, mengembangkan serangkaian kegiatan dan menemukan cara-cara baru
atau inofasi.
Berbagai teori kesifatan juga dikemukakan oleh Ordway Tead dan George R. Terry dalam Kartono (1992: 37).
Berbagai teori kesifatan juga dikemukakan oleh Ordway Tead dan George R. Terry dalam Kartono (1992: 37).
Teori kesifatan menurut Ordway Tead adalah sebagai berikut:
1) Energi jasmaniah dan mental Yaitu mempunyai daya
tahan, keuletan, kekuatan baik jasmani maupun
mental untuk mengatasi semua permasalahan.
2) Kesadaran akan tujuan dan arah Mengetahui arah yang
akan dituju dari pekerjaan yang akan dilaksanakan, serta yakin akan manfaatnya.
3) Antusiasme Pekerjaan yang dilakukan mempunyai
tujuan yang bernilai, menyenangkan, memberikan sukses, dan dapat membangkitkan semangat serta
antusiasme bagi pimpinan maupun bawahan.
4) Keramahan dan kecintaan Kasih sayang dan dedikasi
pemimpin bisa memotivasi bawahan untuk melakukan perbuatan yang menyenangkan
bagi semua pihak, sehingga pemimpin dapat mengarahkan untuk mencapai tujuan.
5) Integritas Pemimpin harus bersikap terbuka; merasa
utuh bersatu, sejiwa dan seperasaan dengan anak buah sehingga bawahan menjadi lebih percaya dan
hormat.
6) Penguasaan teknis
Setiap pemimpin harus menguasai satu atau beberapa kemahiran teknis agar ia
mempunyai kewibawaan dan kekuasaan untuk memimpin.
7) Ketegasan dalam mengambil keputusan Pemimpin yang
berhasil pasti dapat mengambil keputusan secara cepat, tegas dan tepat sebagai
hasil dari kearifan dan pengalamannya.
8) Kecerdasan Orang
yang cerdas akan mampu mengatasi masalah dalam waktu yang lebih cepat dan cara
yang lebih efektif.
9) Keterampilan mengajar Pemimpin yang baik adalah
seorang guru yang mampu menuntun, mendidik, mengarahkan, mendorong, dan
penggerakkan anak buahnya untuk berbuat sesuatu.
10)
Kepercayaan
Keberhasilan kepemimpinan pada umumnya selalu didukung oleh kepercayaan anak
buahnya, yaitu percaya bahwa pemimpin bersama-sama dengan anggota berjuang untuk
mencapai tujuan.
Teori Kesifatan menurut George R. Terry adalah sebagai berikut:
1. Kekuatan Kekuatan
badaniah dan rokhaniah merupakan syarat yang pokok bagi pemimpin sehingga ia
mempunyai daya tahan untuk menghadapi berbagai rintangan.
2. Stabilitas emosi Pemimpin dengan emosi yang
stabil akan menunjang pencapaian lingkungan sosial yang rukun, damai, dan
harmonis.
3. Pengetahuan
tentang relasi insani Pemimpin diharapkan memiliki pengetahuan tentag sifat,
atak, dan perilaku bawahan agar ia bisa menilai kelebihan dan kelemahan bawahan
yang disesuaikan dengan tugas-tugas yang akan diberikan kepadanya.
4. Kejujuran Pemimpin yang baik harus mempunyai
kejujuran yang tinggi baik kepada diri sendiri maupun kepada bawahan.
5. Obyektif Pertimbangan pemimpin
harus obyektif, mencari bukti-bukti yang nyata dan sebab musabab dari suatu
kejadian dan memberikan alasan yang rasional atas penolakannya.
6. Dorongan pribadi Keinginan dan kesediaan untuk
menjadi pemimpin harus muncul dari dalam hati agar mau ikhlas memberikan
pelayanan dan pengabdian kepada kepentingan umum.
7. Keterampilan berkomunikasi. Pemimpin diharapkan
mahir menulis dan berbicara, mudah menangkap maksud orang lain,
mahir mengintegrasikan berbagai opini serta aliran yang berbeda-beda untuk
mencapai kerukunan dan keseimbangan.
8. Kemampuan mengajar Pemimpin diharapkan juga menjadi
guru yang baik, yang membawa orang belajar pada sasaran-sasaran tertentu untuk
menambah pengetahuan, keterampilan agar bawahannya bisa mandiri, mau memberikan
loyalitas dan partisipasinya.
9. Keterampilan sosial Dia bersikap ramah, terbuka,
mau menghargai pendapat orang lain, sehingga ia bisa memupuk kerjasama yang
baik.
10.Kecakapan teknis
atau kecakapan manajerial. Penguasaan teknis perlu dimiliki agar tercapai efektifitas
kerja dan kesejahteraan.
Berdasarkan
teori-teori tentang kesifatan atau sifat-sifat pemimpin diatas, dapat
disimpulkan bahwa sifat-sifat kepemimpinan kepala sekolah adalah :
1) Kemampuan
sebagai pengawas supervisory ability);
2) Kecerdasan
3) Inisiatif
4)
Energi jasmaniah dan mental
5) Kesadaran akan
tujuan dan arah
6) Stabilitas
emosi
7) Obyektif
8) Ketegasan dalam
mengambil keputusan
9) Keterampilan
berkomunikasi
10) Keterampilan
mengajar
11) Keterampilan
social
12) Pengetahuan
tentang relasi insane.
Memahami
Definisi Kepemimpinan
Para ahli merumuskan definisi kepemimpinan, sebagai
berikut:
1.
Fiedler [1967], kepemimpinan pada dasarnya merupakan pola hubungan antara individu-individu yang
menggunakan wewenang dan pengaruhnya terhadap kelompok orang agar bekerja
bersama-sama untuk mencapai tujuan.
2.
John Pfiffner, kepemimpinan adalah kemampuan mengkoordinasikan dan memotivasiorang-orang
dan kelompok untuk mencapai tujuan yang di kehendaki.
3.
Davis [1977], mendefinisikan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengajak orang lain mencapai tujuan yang
sudah ditentukan dengan penuh semangat .
4.
Ott [1996], kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai proses hubungan antar pribadi yang di dalamnya
seseorang mempengaruhi
sikap, kepercayaan, dan khususnya perilaku orang lain.
5.
Locke et.al. [1991], mendefinisikan kepemimpinan merupakan proses membujuk orang lain untuk mengambil langkah
menuju suatu sasaran bersama
Dari kelima definisi ini, para ahli ada yang meninjau dari sudut pandang
dari pola hubungan, kemampuan
mengkoordinasi, memotivasi, kemampuan
mengajak, membujuk dan mempengaruhi orang
lain.
Memahami teori-teori kepemimpinan sangat besar artinya untuk mengkaji
sejauh mana kepemimpinan dalam suatu organisasi telah dapat dilaksanakan secara
efektif serta menunjang kepada produktifitas organisasi secara keseluruhan.
B. Teori-Teori Perilaku Kepemimpinan
Sulitnya mendefinisikan kepemimpinan efektif hanya berdasarkan karakter
memicu minat untuk melihat perilaku pemimpin dan bagaimana perilaku tersebut dapat
menentukan kesuksesan atau kegagalan mereka dilakuakan dengan dua metode
penelitian antara lain:
1. Studi Universitas
Iowa
Salah satu
eksplorasi formal yang pertama dari kedua gaya dilakukan oleh Kurt Lewin dan
koleganya di University of Iowa, pada 1930-an - saat teori sifat masih
didominasi 'peneliti perhatian yang besar. Lewin menggunakan istilah:
a. Otokratis - di mana
staf yang hanya melakukan seperti yang diperintahkan.
Perilaku otokratis,
pada umumnya dinilai bersifat negatif, di mana sumber kuasa atau wewenang
berasal dari adanya pengaruh pimpinan. Jadi otoritas berada di tangan pemimpin,
karena pemusatan kekuatan dan pengambilan keputusan ada pada dirinya serta
memegang tanggung jawab penuh.
sedangkan bawahannya dipengaruhi melalui
ancaman dan hukuman. Selain bersifat negatif, gaya kepemimpinan ini mempunyai
manfaat antara lain, pengambilan keputusan cepat, dapat memberikan kepuasan
pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan keteraturan bagi bawahan. Selain itu, orientasi utama
dari perilaku otokratis ini adalah pada tugas.
b. Demokratis - di mana staf memiliki beberapa
mengatakan atas apa yang terjadi di tempat kerja mereka.
Perilaku demokratis; perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa
atau wewenang yang berawal dari bawahan. Hal ini terjadi jika bawahan
dimotivasi dengan tepat dan pimpinan dalam melaksanakan kepemimpinannya
berusaha mengutamakan kerjasama dan team work untuk mencapai tujuan, di mana si
pemimpin senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya.
Kebijakan di sini terbuka bagi diskusi dan keputusan kelompok.
2. Studi Universitas Michigan
Teori kepemimpinan perilaku benar-benar datang ke dalam tahun 1940, dan
1950-an ketika dua kelompok terpisah peneliti dari University of Michigan, dan
Ohio State University mulai sistematis melihat perilaku yang ditunjukkan oleh
pemimpin yang efektif.
Pekerjaan yang dilakukan oleh University of Michigan, di bawah
pengawasan Rensis Likert, yang disebut gaya kepemimpinan seorang manajer
sebagai salah satu:
A. Produksi berorientasi - dengan memungkinkan hanya
mendapatkan pekerjaan yang dilakukan dan dilakukan dengan baik sikap.
B. Karyawan berorientasi - mengambil kepentingan pribadi dalam
staf mereka dan secara aktif mencari untuk memelihara comerarderie kuat.
Kesimpulan dari para peneliti asli karyawan yang berorientasi pemimpin mencapai tingkat yang lebih
tinggi dari produktivitas kerja, dan memiliki staf yang lebih puas daripada
pemimpin berorientasi produksi. Namun,
lain berpendapat bahwa upaya penelitian untuk mengidentifikasi satu universal gaya terbaik,
telah lemah yang terbaik - peneliti terkemuka untuk menemukan pentingnya
situasi dalam menentukan gaya yang akan bekerja terbaik.
3. Ohio State Univerity Studi
Studi Ohio, yang dilakukan pada waktu yang sama seperti yang di Michigan di
bawah arahan Ralph Stogdill, disebut dua cara utama sebagai:
1. Memulai struktur - di mana manajer menentukan dan ketat
struktur pekerjaan staf.
2. Pertimbangan - mana manajer memelihara rasa saling percaya dan hubungan intepersonal kuat.
Namun, penelitian ini unik karena mereka tidak melihat dua dimensi
kepemimpinan untuk menjadi eksklusif gaya bersama, di mana seorang manajer
adalah tugas baik atau hubungan terfokus.
4. Model Leadership Continuum
Tannenbaun dan
Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) berpendapat bahwa pemimpin
mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara, yaitu dari cara yang
menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan
cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku
demokratis.
Menurut teori
kontinuun ada tujuh tingkatan hubungan peminpin dengan bawahan :
1. Pemimpin membuat dan mengumumkan
keputusan terhadap bawahan(telling).
2. Pemimpin menjual dan menawarkan
keputusan terhadap bawahan (selling).
3. Pemimpin menyampaikan ide dan
mengundang pertanyaan.
4. Pemimpin memberikan keputusan
tentative, dan keputusan masih dapat diubah.
5. Pemimpin memberikan problem dan
meminta sarang pemecahannya kepada bawahan (consulting).
6. Pemimpin menentukan
batasan – batasan dan minta kelompok untuk membuat peputusan.
7. Pemimpin mengizinkan bawahan berfungsi
dalam batas – batas yang ditentukan (joining).
Jadi, berdasarkan teori continuum, perilaku pemimpin pada dasarnya bertitik
tolak dari dua pandangan dasar :
1. Berorientasi kepada pemimpin.
2. Berorientasi kepada bawahan.
Orientasi Karyawan.
Orientasi karyawan memberikan informasi kepada karyawan baru mengenai latar belakang tentang perusahaan & pekerjaan. Pada intinya orientasi adalah proses sosialisasi karyawan baru terhadap pimpinan perusahaan. Sosialisasi adalah proses penanaman dalam diri karyawan tentang sikap, standar, nilai-nilai, dan pola perilaku yang diharapkan oleh organisasi dan departemen. Program orientasi dimulai dari pengenalan informal yang singkat sampai program formal yang panjang. Biasanya karyawan diberikan buku panduan tentang jam kerja, penilaian kinerja, pembayaran gaji, dan liburan/cuti.
Fungsi Orientasi :
Orientasi karyawan memberikan informasi kepada karyawan baru mengenai latar belakang tentang perusahaan & pekerjaan. Pada intinya orientasi adalah proses sosialisasi karyawan baru terhadap pimpinan perusahaan. Sosialisasi adalah proses penanaman dalam diri karyawan tentang sikap, standar, nilai-nilai, dan pola perilaku yang diharapkan oleh organisasi dan departemen. Program orientasi dimulai dari pengenalan informal yang singkat sampai program formal yang panjang. Biasanya karyawan diberikan buku panduan tentang jam kerja, penilaian kinerja, pembayaran gaji, dan liburan/cuti.
Fungsi Orientasi :
a. Membantu karyawan baru untuk berkinerja lebih baik dengan penyajian informasi yang dibutuhkan tentang aturan dan praktik perusahaan.
b. Mengurangi kegugupan atau kecanggungan karyawan dalam memulai pekerjaan yang baru.
Program Orientasi.
Orientasi adalah aktivitas-aktivitas yang menyangkut pengenalan individu terhadap organisasi, penyediaan landasan bagi karyawan baru agar mulai berfungsi secara efektif dan menyenangkan pada pekerjaan yang baru. Orientasi meliputi pengenalan karyawan baru terhadap perusahaan, fungsi-fungsi, tugas-tugas dan orang-orangnya.
Orientasi adalah aktivitas-aktivitas yang menyangkut pengenalan individu terhadap organisasi, penyediaan landasan bagi karyawan baru agar mulai berfungsi secara efektif dan menyenangkan pada pekerjaan yang baru. Orientasi meliputi pengenalan karyawan baru terhadap perusahaan, fungsi-fungsi, tugas-tugas dan orang-orangnya.
Tiga permasalahan baru yang dihadapi oleh
karyawan baru :
1. Masalah-masalah dalam memasuki suatu kelompok
2. Harapan yang naïf. Perusahaan baiasanya lebih menyukai memberitahukan kepada karyawan baru tentang gaji, bonus, liburan daripada norma-norma karyawan.
3. Lingkungan pekerjaan yang pertama kali.
Dua tipe orientasi yang biasanya diadakan oleh
satu perusahaan yaitu :
Induksi dan sosialisasi.
PENDEKATAN SITUASIONAL DAN TEORI KONTIGENSI
Dalam teori pendekatan
situasional, kepemimpinan yang efektif adalah bagaimana seorang pemimpin dapat
mengetahui keadaan baik kemampuan ataupun sifat dari anak buah yang di
pimpinnya untuk kemudian pemimpin dapat menentukan perintah atau sikap terhadap
anak buah sesuai dengan keadaan atau pun kemampuan anak buahnya. Tingkat
kematangan atau kemapuan anak buah ada empat macam yaitu:
·
intruksi,
·
konsultasi,
·
delegasi
·
dan partisipasi.
Adapun
gaya yang tepat di terapkan dalam keempat tingkat kematanga anak buah seperti
yang telah di jelaskan oleh Miftah Thoha dalam bukunya Kepemimpinan dalam
Manajemen adalah sebagai berikut:
Instruksi yaitu perilaku pemimpin yang
tinggi pengarahan dan rendah dukungan dirujuk sebagai instruksi karena gaya ini
dicirikan dengan komunikasi
satu arah. Pemimpin memberikan batasan peranan
pengikutnya dan memberitahu mereka tentang apa, bagaimana, bilamana, dan dimana
melaksankana berbagai tugas. Inisiatif pemecahan masalah dan pembuatan
keputusan semata-mata dilakukan oleh pemimpin. Pemecahan masalah dan keputusan
diumumkan, dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh pemimpin.
Konsultasi yaitu perilaku pemimpin yang tinggi
pengarahan dan tinggi dukungan dirujuk sebagai konsultasi, karena dalam
menggunakan gaya ini, pemimpin masih banyak memberikan pengarahan dan masih
membuat hampir sama dengan keputusan, tetapi hal ini diikuti dengan
meningkatkan banyaknya komunikasi dua arah dan perilaku mendukung, dengan
berusaha mendengar perasaan pengikut tentang keputusan yang dibuat, serta
ide-ide dan saran-saran mereka. Meskipun dukungan ditingkatkan, pengendalian
(control) atas pengambilan keputusan tetap pada pemimpin.
Partisipasi yaitu perilaku pemimpin yang
tinggi dukunagn dan rendah pengarahan dirujuk sebagai partisipasi, karena
posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dipegang secara
bergantian. Dengan penggunaan gaya 3 ini, pemimpin dan pengikut saling tukar
menukar ide dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Komunikasi dua
arah ditingkatkan, peran pemimpin adalah secara aktif mendengar. Tanggung jawab
pemecahan masalah dan pembuatan keputusan sebagian besar berada pada pihak
pengikut. Hal ini sudah sewajarnya karena pengikut memiliki kemampuan untuk
melaksanakan tugas.
Delegasi yaitu perilaku pemimpin yang
rendah dukungan dan rendah pengarahan dirujuk sebagai delegasi, karena pemimpin
mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahan sehingga tercapai kesepakatan
mengenai definisi masalah yang kemudian proses pembuatan keputusan
didelegasikan secara keseluruhan kepada bawahan.
Sekarang bawahanlah yang memiliki kontrol
untuk memutuskan tentang bagaimana cara pelaksanaan tugas. Pemimpin memberikan
kesempatan yang luas bagi bawahan untuk melaksanakan pertunjukan mereka sendiri
karena mereka memiliki kemampuan dan keyakinan untuk memikul tanggung jawab
dalam pengarahan perilaku mereka sendiri.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
kepemimpinan yang efektif adalah pemimpin yanng dapat menyesuaikan gaya
kepemimpinannya sesuai dengan tingkat kematangan anak buahnya. Hubungan antara
gaya kepemimpinan dan tingkat kematangan anak buah adalah sebagai berikut:
Jika anak buah dalam kematangan yang
rendah maka gaya kepemimpinan yang efektif adalan instruksi.
Jika kematangan
anak buah sedanng bergerak dari rendah kesedang maka gaya kepemimpinan yang
efektif adalah konsultasi.
Jika tingkat kematangan anak buah dari
sedang ke tinggi maka gaya kepemimpinan yanng efektif adalah partisipasi.
Dan jika kematangan anak buah adalah
tinggi maka gaya kepemimpinan yanng efektif adalah delegasi.
Menurut Wahjosumidjo (1987:219) pada
dasarnya tidak ada pemimpin yang baik yang ada adalah pemimpin yang efektif,
yaitu pemimpin yang selalu berubah-ubah perilakunya sesuai dengan tingkat
perkembangan kedewasaan bawahannya.
Oleh karena itu, seorang pemimpin dapat
berperilaku efektif, akan lebih cocok apabila pemimpin itu dapat menerapkan
ajaran teori kepemimpinan situasi.
Dan teori kepemimpinan situasi sendiri
pada hakikatnya merupakan teori yang dikembangkan dari teori kepemimpinan
perilaku.
Sedang teori kepemimpinan perilaku
berdasarkan perkembangannya bersumber pada ajaran-ajaran yang dihasilkan oleh
teori kepemimpinan sifat.
SUMBER :